Wednesday, January 16, 2008

The Look Of Love

Aku nyatakan pada si teman lelaki akan hasratku itu. Dan setiap kali itulah perbincangan berakhir dengan perselisihan, tanpa natijah.

Aku tahu dia kecewa. Suatu perubahan mendadak yang mengejutkan. Ia mungkin akan meninggalkan kesan-kesan sampingan yang serius terhadap dirinya. Aku tidak pasti, tidak peduli.

Dia tanya kenapa.

Aku kata, kenapa tidak?

Si buah hati, RP tertunduk diam. Menggeleng kepala. Mengeluh panjang.

Is there any other man?

Noooo sayang! Please, it isn’t like that.”

Then, why?!

Why not?!

Dia tertunduk diam. Menggeleng kepala. Mengeluh panjang. “I can’t..

If you don’t want it to stop, then let’s get married this year.” Aku ucap dengan penuh bingung. Aku tidak tahu adakah aku sanggup menghabiskan seumur hidupku dengannya, namun aku yakin cara terbaik menghilangkan sangsinya adalah soalan itu.

Dia tertunduk diam. Menggeleng kepala. Mengeluh panjang.

Aku tarik wajahnya ke dada. Aku belai lembut rambutnya. Aku cium pipinya, bibirnya, hidungnya.

Ini bukan konfrontasi, Sayang. Tiada yang lain, janganlah kau sangsi.

Ini hanya guilt dan conscience, yang biasanya datang menyinggah selepas kemuncak.

No comments: